Thursday, November 15, 2012

Istri Jadi Macho, Hiperandrogen?

SUATU hari seorang suami mengeluhkan kehidupan rumah tangganya yang mulai tak harmonis. Dalam beberapa tahun terakhir, ia merasa tak nyaman lagi berada di dekat istrinya yang sudah banyak mengalami perubahan baik secara fisik maupun mental.

Keluhan sang suami memang bisa dimaklumi. Ia lebih sering menjauhi istrinya karena tak tahan lagi melihat perubahan-perubahan drastis pada fisik dan perilaku yang di luar kebiasaan. Jika dulu sang istri kelihatan cantik jelita, kini telah berubah menjadi wanita "macho". Selain badannya menjadi tampak lebih kekar, wajah sang istri ditumbuhi jerawat dan bulu-bulu tak wajar, seperti jambang dan kumis halus.

Sang istri pun cenderung lebih temperamental dan seperti terlihat mengalami depresi. Emosinya agak labil karena rupanya sudah sekitar 3 tahun tidak datang bulan atau menstruasi. Dengan penderitaan istrinya yang sudah begitu lama, sang suami sebenarnya tak pernah tinggal diam. Ia sudah berkonsultasi dan berobat ke berbagai dokter dan psikolog, namun tak juga menunjukkan hasil memuaskan.

Setelah berkutat dengan pengobatan yang tak juga memberi kesembuhan, si suami akhirnya menemukan titik terang setelah berkenalan dengan seorang teman yang menganjurkan untuk berobat ke dokter ahli kandungan. Lewat hasil pemeriksaan lab, sang istrinya rupanya mengalami ketidakseimbangan hormon. Melalui pengobatan yang intensif, kondisi istrinya kini mulai berubah, baik dari segi fisik maupun mental. Sang istri pun sudah mulai mengalami haid atau menstruasi dan emosinya tak lagi meledak-ledak.

Berkaca dari kisah tadi, sang istri secara medis dapat dikatakan mengalami hiperandrogen atau suatu keadaan di mana hormon androgen meningkat secara abnormal atau berlebihan. Produksi hormon androgen dalam tubuh menjadi berlebihan oleh karena suatu sebab yang belum dapat dijelaskan kedokteran --sehingga disebut juga sebagai endokrinopati.

Menurut penjelasan dr Frizar Irmansyah, SpOG (K), dokter ahli kandungan dari RS Pertamina Jakarta, hiperandrogen adalah salah satu gangguan paling umum yang mempengaruhi 10-20 persen para wanita di usia reproduktif. Gejala hiperandrogen biasanya dibagi dua jenis yakni yang mempengaruhi kulit dan rambut serta yang berkaitan dengan sindrom ovarium poliksistik.

¨Gejala pada kulit dan rambut ditandai dengan kulit berminyak, tumbuh jerawat, atau pun ketombe yang dapat menyebabkan kebotakan. Gejala lain adalah hirsutisme atau tumbuhnya rambut pada tempat yang tidak semestinya, ¨terang dr Frizar dalam acara media edukasi Kontrasepsi Oral vs Hiperandrogen pada Wanita yang disponsori PT Bayer Indonesia di Jakarta, Kamis (14/2).

Sementara itu, lanjut dr Frizar, gejala yang berkaitan dengan sindrom ovarium poliksistik (PCOS), ditandai dengan adanya gangguan siklus menstruasi, obesitas, ketidaknormalan metabolisme tubuh seperti resistensi insulin dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler.

¨Beberapa penyebab hiperandrogen di antaranya adalah peningkatan sekresi testosteron dari ovarium, peningkatan kadar androgen bebas yang beredar dalam darah yang tak terikat pada proteinnya dan peningkatan enzim 5 alfa-reductase di target organ,¨ ungkapnya.

Dr. Frizar menambahkan faktor gaya hidup juga berperan bagi tercetusnya gangguan atau ketidakseimbangan hormon seperti hiperandrogen ini. ¨Makan banyak, kurang olahraga, stres adalah faktor risikonya. Jika kebanyakan lemak, tubuh akan memproduksi hormon estrogen berlebihan sehingga haid pun akan terganggu. Dengan gangguan haid, hormon androgen pun terpengaruh dan kadarnya bisa meningkat,¨ terangnya.

Untuk mendapatkan kondisi kesehatan sempurna, Frizar berpesan agar para wanita selalu menjaga keseimbangan masing-masing hormon, terutama tiga jenis hormon yang berpengaruh besar pada kaum Hawa yakni estrogen, progesteron dan androgen.

Ketiga hormon yang sangat penting dalam kehidupan wanita ini juga sangat berpengaruh pada tingkat kesuburan wanita untuk bisa hamil. Progesteron seringkali disebut pula sebagai hormon kesuburan. Pada saat wanita mengalami ovulasi, hormon ini yang membuat kulit wanita terasa lebih hangat.

Adapun hormon androgen biasa disebut juga hormon pria. Ini karena sesungguhnya hormon itu adalah hormon khas pria, tapi juga diproduksi pada tubuh wanita, dengan fungsi utama sebagai penyeimbang fungsi hormon estrogen dan progesteron.

http://health.kompas.com